5 Cara Perhitungan Statistik Kecelakaan Kerja, Tingkatan, dan Form SKK

Statistik kecelakaan kerja merupakan suatu aspek fundamental dalam dunia keselamatan dan kesehatan kerja yang berupa perhitungan potensi dan resiko kecelakaan kerja yang dibuat atau dibentuk dengan tujuan utama untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja di lingkungan perusahaan.

Dengan menghitung tingkat kecelakaan kerja, kita dapat menghitung lagging indikator yang menunjukkan performa K3 di masa silam. Salah satu referensi perhitungan statistik kecelakaan kerja yang dibuat dan dicanangkan oleh para praktisi adalah OSHA Log 300.

OSHA Log 300 ini dibuat oleh Occupational Safety and Health Administration Amerika Serikat yang berupa form atau borang yang dihadirkan untuk mencatat riwayat luka dan penyakit akibat kerja.

Suatu kondisi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja dikategorikan sebagai kejadian yang terjadi di lingkungan tempat kerja, jika suatu kejadian yang terjadi berpotensi menyebabkan semakin buruknya kondisi setelah terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat kerja pada pekerja yang terserang atau mengalaminya.

Tingkatan Kecelakaan Kerja Dalam OSHA Log 300

Adapun tingkatan kecelakaan kerja yang diatur dalam OSHA Log 300 sendiri sebagai berikut :

First aid

First aid merupakan sebuah kondisi kecelakaan yang mencakup beragam jenis kecelakaan. Adapun beberapa hal yang berkaitan dengan jenis – jenis kecelakaan terkait terdiri atas :

  1. Pemanfaatan obat non resep dengan kekuatan dosis yang tidak diresepkan oleh dokter
  2. Pemberian imunisasi tetanus
  3. Pembersihan luka yang terdapat pada permukaan kulit
  4. Penggunaan beragam pelindung kulit seperti bandage, gauze pads atau plester
  5. Penggunaan terapi air panas atau terapi air dingin
  6. Penggunaan penopang tubuh yang tidak tetap seperti halnya penopang tulang belakang, perban yang non rigid dan juga elastic bandage
  7. Penggunaan alat pembatas gerak ketika korban dipindahkan seperti penggunaan alat pendukung leher, tali atau papan tulang belakang
  8. Drilling kuku jari untuk membantu menghilangkan beragam tekanan atau mengeluarkan cairan dari luka lepuh yang menganga
  9. Penggunaan penutup mata untuk kegiatan atau aktivitas kerja yang berpotensi membahayakan kesehatan mata
  10. Penggunaan aliran air atau kapas basah guna memindahkan beragam kotoran yang berpotensi masuk ke mata atau bagian tubuh lain seperti telinga

Medical treatment

Medical treatment merupakan suatu kecelakaan yang membutuhkan pertolongan lanjutan dari petugas medis. Daripada kasus first aid, medical treatment ini jauh lebih parah kondisi kecelakaan yang dialami. Oleh sebab itu perawatan yang diberikan atas kasus medical treatment termasuk pemberian perawatan medis kepada pasien dilakukan dengan tujuan untuk membantu mengatasi beragam masalah cedera atau penyakit lainnya.

Kriteria medical treatment sendiri tidak termasuk ke dalam kecelakaan yang disebut first aid dan tidak masuk ke dalam golongan kecelakaan yang mengakibatkan pekerja harus meninggalkan pekerjaannya dalam kurun waktu beberapa hari.

Restricted work

Restricted work atau larangan kerja merupakan kondisi yang terjadi sebagai hasil atau akibat dari kecelakaan kerja atau penyakit terhadap karyawan atau pekerja yang sempat mengalami kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja.

Pemberi kerja memberikan rekomendasi terhadap karyawan atau pekerja yang bersangkutan untuk bekerja dan beraktivitas dalam kurun waktu larangan yang telah ditentukan. Semua ini dilakukan untuk memberikan waktu istirahat agar pekerja tersebut dapat melakukan pemulihan secara intens.

Mengenai bagaimana metode perhitungan dari restricted work kepada pekerja adalah dihitung dengan pemberian laporan ke OSHA untuk memulai perhitungan sejak 1 hari setelah kecelakaan kerja dengan lama waktu maksimal selama 180 hari kerja.

Mengenai tingkat kecelakaan yang diberlakukan restricted work mungkin bisa berbeda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain karena semua itu kembali disesuaikan dengan kebijakan perusahaan.

Form Statistik Kecelakaan Kerja digunakan untuk mengukur tingkat kinerja K3 di tempat kerja yang berkaitan dengan kejadian kecelakaan/insiden kerja serta tingkat keparahan yang ditimbulkan. Form ini kemudian digunakan untuk menentukan/merencanakan langkah-langkah perbaikan untuk mengurangi angka kecelakaan/insiden kerja dan tingkat keparahannya.

Perhitungan Statistik Kecelakaan Kerja

Adapun dalam cara perhitungan statistik kecelakaan kerja terbagi menjadi 5 metode, yaitu:

  1. Frequency Rate (Tingkat Keseringan)
  2. Severity Rate (Tingkat Keparahan)
  3. Incident Rate (Tingkat Kejadian)
  4. Average Time Lost Rate (Rata-rata Hilang Hari Kerja karena Kecelakaan Kerja)
  5. Safe-T Score (Nilai Keselamatan Kerja)

Frequency Rate (Tingkat Keseringan)

  • Frequency Rate digunakan untuk menentukan tingkat keseringan kecelakaan kerja / insiden kerja per 1.000.000 (satu juta) jam kerja orang.
  • FR (Frequency Rate) = (Total Kasus Kecelakaan Kerja/Total Jam Kerja Orang) X 1.000.000

Severity Rate (Tingkat Keparahan)

  • Severity Rate digunakan untuk menentukan tingkat hari kerja yang hilang karena kecelakaan kerja / insiden kerja per 1.000.000 (satu juta) jam kerja orang.
  • SR (Severity Rate) = (Total Hari Kerja Hilang karena Kecelakaan Kerja/Total Jam Kerja Orang) X 1.000.000

Lebih lengkap tentang Severity Rate dapat kamu baca pada artikel berikut ini :

Incident Rate (Tingkat Kejadian)

  • Incident Rate digunakan untuk menentukan prosentase tingkat terjadinya kecelakaan kerja untuk tiap tenaga kerja.
  • IR (Incident Rate) = (Total Kasus Kecelakaan Kerja/Total Tenaga Kerja) X 100%

Average Time Lost Rate (Rata-rata Hilang Hari Kerja karena Kecelakaan Kerja)

  • Average Time Lost Rate digunakan untuk menentukan rata-rata hilangnya hari kerja karena kecelakaan kerja untuk tiap kasus kecelakaan kerja.
  • ATLR (Average Time Lost Rate) = (Total Hari Hilang karena Kecelakaan Kerja/Total Kasus Kecelakaan Kerja)

Safe-T Score (Nilai Keselamatan Kerja)

  • Safe-T Score digunakan untuk menentukan tingkat perubahan (peningkatan/perubahan) kinerja K3 yang berkaitan dengan kecelakaan kerja / insiden kerja.
  • Safe-T Score = (FR(n) – FR(n-1))/FR (n-1)

Keterangan:

  • FR(n) = Nilai FR saat ini.
  • FR(n-1) = Nilai FR waktu yang lalu.
  • STS antara +2,00 dan -2,00 tidak menunjukkan perubahan berarti.
  • STS diatas +2,00 menunjukkan keadaan memburuk.
  • STS dibawah -2,00 menunjukkan keadaan yang membaik.

Data Statistik Kecelakaan Kerja

Di kutip dari : https://www.ayojakarta.com/read/2020/01/13/10820/kasus-kecelakaan-kerja-di-indonesia-terus-meningkat

Menurut data BPJS Ketenagakerjaan, jumlah kasus kecelakaan kerja (KK) dari tahun 2016 hingga saat ini mengalami peningkatan.

Tahun 2016, jumlah KK sebanyak 101.368 kasus dengan jumlah klaim mencapai Rp 833.44 miliar. Tahun 2017 sebanyak 123.041 kasus KK dengan total klaim Rp 971,62 miliar. Kemudian, di tahun 2018 sebanyak 173.415 kasus KK dengan total klaim Rp 1,22 triliun.

Hingga akhir September 2019 total KK sebanyak 130.923 kasus dengan klaim Rp 1,09 triliun. Per akhir September 2019, sektor yang berkontribusi relatif besar terjadinya KK adalah industri pengolahan. Yaitu sebanyak 50.358 kasus, perdagangan besar 9.559 kasus, transportasi dan pergudangan 2.694 kasus.

Form Statistik Kecelakaan Kerja

Statistik kecelakaan kerja
Statistik kecelakaan kerja

Sekian penjelasan yang dapat saya bagikan kali ini, semoga ilmunya dapat bermanfaat dan berguna bagi kehidupan kita semua, Aaminn.

Terimakasih telah berkunjung dan membaca artikel ini, sampaikan pendapat atau saran anda di kolom komentar ya.

Lebih bermanfaat jika dibagikan ke

Leave a Comment