4 Garis Besar Dalam Kebijakan K3 Perusahaan, Serta Contohnyaa

Kebijakan K3 dalam sistem manajemen perusahaan merupakan hal mendasar yang penting untuk diperhatikan. Dalam ruang lingkup perusahaan apalagi, K3 perusahaan menjadi hal krusial yang perlu dicanangkan dengan baik agar mudah dipahami seluruh elemen perusahaan itu sendiri.

Agar kebijakan K3 dapat terlaksana sebagaimana mestinya, komitmen K3 diperlukan oleh setiap orang yang ada di dalam perusahaan. Mengenai seperti apa contoh penerapan K3 di perusahaan, berikut informasi selengkapnya untuk Anda!

Contoh Kebijakan K3 Perusahaan

Kebijakan K3 perusahaan meliputi berbagai macam aspek penting yang harus ditata dengan baik mulai dari kebijakan yang menyangkut keamanan kerja dalam penggunaan mesin dan yang lainnya, termasuk juga kebijakan yang menyangkut perihal contoh kesehatan kerja.

Banyak contoh kebijakan K3 di perusahaan pdf yang beredar, dan beberapa contohnya secara garis besar sebagai berikut :

Pemberian logo dan simbol K3 di lingkungan perusahaan

Hal pertama dalam contoh K3 di lingkungan kerja baik di perusahaan atau contoh k3lh adalah pemberian informasi tentang logo k3 dan simbol – simbol bahaya yang berkaitan dengan bahaya dan potensi bahaya di lingkungan kerja.

Logo dan simbol k3 tersebut menjadi panduan untuk diketahui semua pihak yang tengah berada di lingkungan kerja. Baiknya semua hal yang berkaitan dengan logo dan simbol K3 dipampang di sebuah papan yang mudah dibaca sehingga semua orang tidak mengalami salah persepsi atau ketidaktahuan yang menimbulkan misskomunikasi.

Memberi kebijakan tentang APD

Terlebih untuk orang – orang yang bekerja di lokasi yang rentan dengan bahaya kecelakaan kerja, maka penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) ketika bekerja sangat diperlukan.

Berikut beberapa contoh APD yang sangat diperlukan untuk menunjang pekerjaan diantaranya :

  1. Pakaian kerja : Alat pelindung diri yang pertama ini digunakan untuk ditujukan untuk melindungi badan manusia terhadap pengaruh yang kurang sehat atau yang berpotensi melukai badan
  2. Sepatu kerja atau safety shoes atau sepatu safety : Diperlukan untuk melindungi kaki dalam bekerja agar bisa lebih bebas berjalan kemana – mana tanpa takut terluka, kemasukan kotoran, tertusuk benda tajam atau karena hal – hal lainnya.
  3. Kacamata kerja : Digunakan untuk memberikan perlindungan terhadap mata dari serpihan besi atau debu. Biasanya pekerjaan yang membutuhkan kacamata kerja dalam menjalankan aktivitas kerjanya adalah kegiatan mengelas.
  4. Sarung tangan : Tujuan utama dari penggunaan sarung tangan ketika bekerja salah satunya adalah untuk memberikan perlindungan kepada tangan dari terkena benda – benda keras, dan mengangkat barang – barang berbahaya. biasanya sarung tangan diperlukan untuk beberapa jenis pekerjaan. Pekerjaan yang sifatnya berulang seperti mendorong gerobak misalnya perlu menggunakan sarung tangan dalam berkegiatan.
  5. Helm : Helm penting digunakan sebagai pelindung kepala dan merupakan suatu keharusan bagi masing – masing pekerja untuk menggunakannya sesuai dengan peraturan yang benar.
  6. Tali pengaman atau safety harness : Fungsinya adalah sebagai pengaman ketika karyawan sedang bekerja di ketinggian. Tali pengaman perlu digunakan sebagai alat untuk mengamankan orang ketika bekerja pada ketinggian lebih dari 1,8 meter.
  7. Penutup telinga atau ear plug : Pelindung telinga yang digunakan ketika seseorang sedang bekerja di tempat yang bising.
  8. Masker atau respirator : Penting digunakan sebagai penyaring udara yang dihirup ketika bekerja di tempat – tempat yang kualitas udaranya buruk seperti di area tambang misalnya.
  9. Pelindung wajah atau face shield : Pelindung wajah dari percikan benda asing ketika sedang bekerja.

Lebih lengkapnya tentang Alat Pelindung Diri (APD) dapat kamu baca pada artikel berikut ini:

Memberikan training K3

Contoh kebijakan K3 yang selanjutnya adalah memberikan training program K3 kepada seluruh elemen karyawan di lingkungan kerja. Training atau pelatihan K3 yang diberikan melingkupi semua hal yang berkaitan dengan cara kerja yang aman, informasi batasan – batasan kerja dan tugas di lingkungan kerja, serta berbagai hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan.

Training menjadi suatu pola yang harus dijalankan untuk membentuk pengetahuan dan kepribadian kerja dari karyawan di lingkungan kerja. Dengan begitu berbagai hal yang berkaitan dengan kesalahan fatal dalam kegiatan operasional kerja dapat diminimalisir demi meminimalisir resiko kecelakaan kerja di tempat kerja.

Melakukan manajemen resiko dengan sebaik mungkin

Manajemen resiko merupakan sebuah strategi penerapan K3 di lingkungan kerja yang sangat penting diperhatikan dalam mewujudkan lingkungan kerja yang aman, nyaman dan sehat.

Dalam kebijakan K3, manajemen resiko juga menjadi suatu upaya yang diperlukan guna mengurangi dampak negatif dari resiko yang dapat mengakibatkan terjadinya kerugian pada aset organisasi baik yang berupa material, manusia, mesin, metode, hasil produksi atau pun yang berkaitan dengan financial.

Potensi bahaya semacam ini di tempat kerja menjadi sumber resiko yang nantinya akan selalu dijumpai baik yang berasal dari faktor fisik, faktor kimia, faktor biologis, stressor, aspek ergonomic, listrik, mesin, sistem manajemen dan yang lainnya. Semua itu harus diperhatikan agar tidak menimbulkan dampak bahaya bagi para pekerja dan semua orang yang terlibat di lingkungan kerja.

Semua potensi bahaya dan resiko bahaya harus dianalisis dan dievaluasi sebaik mungkin agar resikonya dapat diminimalisir. Mengenai bagaimana langkah yang bisa dilakukan untuk melakukan penilaian resiko demi menghadirkan kebijakan K3 terbaik di lingkungan kerja meliputi :

  1. Menentukan tim penilai. Tim penilai yang dimaksud berasal dari pihak intern perusahaan dan pihak ekstern (konsultan) yang memang memiliki kompetensi di bidangnya.
  2. Menentukan objek atau bagian yang akan dinilai oleh tim penilai yang ditunjuk. Suatu objek yang akan diberikan penilaian terhadapnya perlu dibedakan lagi atas dasar bagian atau departemennya, proses produksinya, jenis pekerjaannya dan yang lainnya. Semua hal yang berkaitan dengan penentuan objek itu sendiri akan sangat membantu dalam sistematika kerja penilainya.
  3. Kunjungan atau inspeksi tempat kerja yang merupakan sebuah kegiatan yang perlu dimulai dan bersifat umum. Dalam kegiatan ini prinsip utamanya adalah mendengar, melihat, serta mencatat semua kondisi yang ada di tempat kerja baik yang berkaitan dengan kegiatan, proses, bahan, jumlah karyawan, kondisi lingkungan, cara kerja, alat pelindung diri, teknologi pengendalian, dan sebagainya.
  4. Identifikasi potensi bahaya yang dapat dilakukan melalui informasi tentang data – data kecelakaan kerja, penyakit dan absensi. Identifikasi potensi bahaya diperlukan oleh petugas P2K3, ahli K3 dalam mengambil kebijakan K3, dan supervisor.
  5. Mencari berbagai informasi atau data – data yang berkaitan dengan potensi bahaya. Upaya ini dapat dilakukan melalui kepustakaan, petunjuk standar dan teknis, mempelajari MSDS, pengalaman atau informasi relevan lainnya.
  6. Analisis resiko yang meliputi seluruh kegiatan yang berpotensi menimbulkan bahaya kecelakaan kerja
  7. Analisis tindakan untuk mengatasi resiko yang sudah diketahui. Analisis tindakan harus dijabarkan secara rinci tindakan apa saja yang perlu dilakukan ketika suatu kecelakaan terjadi.
  8. Evaluasi resiko yang menentukan langkah pengendalian selanjutnya. Evaluasi resiko ini menjadi metode paling akhir yang berkaitan dengan pengambilan keputusan atas kebijakan K3
  9. Penyusunan laporan K3 yang merupakan bagian paling akhir

Lebih lengkapnya tentang Manajemen Resiko (Risk Matrik Management) dapat kamu baca pada artikel berikut ini:

Sekian penjelasan yang dapat saya bagikan kali ini, semoga ilmunya dapat bermanfaat dan berguna bagi kehidupan kita semua, Aaminn.

Terimakasih telah berkunjung dan membaca artikel ini, sampaikan pendapat atau saran anda di kolom komentar ya.

Lebih bermanfaat jika dibagikan ke

Leave a Comment