Jenis Scaffolding dan Bagian – Bagiannya

Jenis scaffolding – Dalam sebuah konstruksi bangunan, kita mengenal istilah scaffolding atau perancah. Lantas apa yang dimaksud dengan scaffolding itu sendiri , dan apa hubungannya dengan Kesehatan dan keselamatan kerja, serta apa saja jenis scaffolding yang memiliki fungsi penting bagi sebuah konstruksi bangunan?

Jadi, pengertian scaffolding adalah penyangga sementara bagi pekerja konstruksi dan sekaligus perancah scaffolding ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk meletakkan barang – barang. Di Indonesia, macam macam scaffolding yang sering digunakan dalam bidang konstruksi memiliki beberapa jenis dan di sini kami akan membahasnya untuk Anda!

Jenis Jenis Scaffolding di Indonesia

Adapun Jenis Jenis Scaffolding di Indonesia ada 5 yaitu :

  1. Frame Scaffolds
  2. Tube and coupler scaffold
  3. Mobile scaffolding
  4. Scaffolding kayu
  5. Scaffolding tanpa roda dan scaffolding menggantung

1. Frame Scaffolds

Jenis scaffolding yang pertama adalah Frame Scaffolds. Frame scaffolds atau jenis bingkai perancah adalah scaffolding yang terdiri atas susunan rangka pipa besi yang memiliki ukuran tertentu. Scaffolding jenis ini digunakan untuk elemen konstruksi bangunan yang memiliki ketinggian lebih dari tiga meter.

Tiang – tiangnya dapat di susun mencapai ketinggian tertentu bahkan sampai dengan 10 meter lebih. Keunggulannya sendiri adalah mudah dalam pemasangan serta sekaligus pembongkarannya ketika bangunan sudah berdiri kokoh.

Selain dapat difungsikan sebagai penyanggah bagi pekerja konstruksi, frame scaffolds juga menjadi sebuah perancah yang dapat digunakan untuk meletakkan barang atau material yang digunakan khususnya jika material tersebut digunakan membangun bagian bangunan yang tinggi.  

Hal ini tentunya akan sangat membantu setiap pekerja konstruksi dalam menjalankan aktivitasnya dibandingkan mereka harus mengambil material dari bawah karena hal tersebut akan memakan waktu yang cukup lama.

2. Tube and coupler scaffold

Jenis scaffolding yang kedua adalah Tube and coupler scaffold. Bagian – bagian dari jenis scaffolding tube and coupler scaffold ini terdiri atas batang pipa yang saling terhubung satu dengan lainnya. Batang pipa tersebut dikaitkan dengan klem dan baut khusus.

Klem yang digunakan terdiri dari dua jenis klem yaitu klem mati dan klem hidup. Klem mati digunakan untuk menghubungkan dua buah pipa dengan sudut 90 derajad. Sementara jenis klem hidup difungsikan guna menghubungkan dua buah ruas pipa scaffolding yang bentuk sudutnya variatif.

Coupler yang digunakan pun terdiri atas dua jenis, ada yang dibuat dengan metode press dan juga ada yang dibuat dengan metode pengecoran. Jenis scaffolding ini banyak digunakan dalam berbagai kegiatan konstruksi.

3. Mobile scaffolding

Mobile scaffolding merupakan jenis scaffolding yang sering disebut sebagai besi beroda. Anda akan temukan roda di masing – masing scaffolding ini. Sementara untuk bahan yang digunakan, jenis mobile scaffolding yang sangat mudah dipindahkan ini terbuat dari bahan pipa galvanis.

Mobile scaffolding yang mudah dipindahkan ini cocok untuk kegiatan konstruksi di area yang tidak terlalu tinggi. Ukurannya pun lebih kecil jika dibandingkan dengan dua jenis scaffolding sebelumnya.

4. Scaffolding kayu

Scaffolding tidak hanya terbuat dari bahan besi. Ada juga yang terbuat dari bahan kayu. Secara umum, scaffolding kayu lebih banyak digunakan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Biasanya scaffolding kayu diaplikasikan pada konstruksi yang tidak terlalu besar.

Dari segi harga, scaffolding kayu memiliki harga yang relatif murah. Hanya saja walau murah, scaffolding ini tidak efisien karena hanya bisa digunakan sekali pakai saja. Berbeda halnya dengan scaffolding besi yang tahan lama dan bisa digunakan berkali – kali.

5. Scaffolding tanpa roda dan scaffolding menggantung

Terakhir ada jenis scaffolding tanpa roda dan menggantunng. Pada scaffolding, komponen yang terdapat didalamnya adalah kaki pipa, kusen, penguat scaffolding vertical dan tiang sandaran. Juga ada bagian lain yang berupa sambungan pasak, papan panggung, papan pengaman, penopang dan anak tangga.

Kemudian untuk jenis scaffolding menggantung, penggunaannya terbatas untuk pemasangan plat beton atau langit – langit bangunan. Cara kerja dari scaffolding menggantung adalah digantung dengan tali sling atau rantai yang tumpuannya telah ditentukan.

Sebenarnya jenis perancah ini banyak variannya. Akan tetapi yang paling sering digunakan dalam bidang konstruksi Indonesia adalah kelima jenis tersebut.

Bagian Bagian Scaffolding

Scaffolding memiliki bagian – bagian penting yang saling terhubung antara yang satu dengan yang lainnya. Berikut bagian – bagian scaffolding yang Anda perlu tahu, diantaranya :

  1. Pelat dasar
  2. Coupler
  3. Cross ledger brace
  4. Standard
  5. Sway brace
  6. Ledger dan intermediate transom
  7. Main transom dan platform

1. Pelat dasar

Bagian dari scaffolding yang pertama adalah pelat dasar. Bahan baku yang biasanya digunakan untuk membuat pelat dasar adalah besi baja dengan patok yang terdapat di bagian tengahnya dan digunakan untuk menahan pipa.

Pipanya dapat diletakkan dengan cara dipaku atau dilekatkan di papan pelapis. Tujuannya adalah untuk mencegah munculnya gerakan lateral jika tidak dipasang atau diikat dengan kuat ketika proyek konstruksi sedang dikerjakan.

2. Coupler

Coupler dalam dunia konstruksi khususnya mengenai bagian scaffolding sering juga disebut sebagai clamp atau fitting. Bagian yang satu ini terbuat dari baja atau metal yang fungsinya adalah digunakan untuk menyambung pipa scaffolding.

3. Cross ledger brace

Bagian scaffolding lainnya adalah Cross ledger brace. Fungsi dari cross ledger brace adalah untuk menjaga kekuatan dari struktur scaffolding dan dipasang secara diagonal atau melintang. Pemasangannya dilakukan di antara legder dan penggantian pasangan dari standar cross brace biasanya langsung dipasangkan ke standar. Kemudian bracenya dipasangkan di bagian ledger.

4. Standard

Bagian dari scaffolding yang satu ini berupa tiang pipa tegak yang membagi seluruh beban ke tanah. Di masing – masing bagian dipasangi sebuah pelat baja yang berfungsi untuk menyebarkan beban secara merata serta mencegah ujung bawah pipa tenggelam ke dalam tanah. Jika kemudian bagian tersebut tenggelam ke tanah, akan berpengaruh atas kestabilan dan keseimbangan scaffolding itu sendiri.

5. Sway brace

Hampir sama dengan standard, sway brace juga merupakan bagian lain dari scaffolding yang berupa pipa. Sway brace ini keberadaannya mampu menahan scaffolding supaya tidak bergoyang dan tetap dalam kondisi stabil.

Sway brace biasanya ditempatkan secara melintang dari dasar sampai titik tertinggi scaffolding yang didirikan. Sementara tingkat kemiringannya ketika dipasangkan berada di rentang 35 derajad sampai dengan 55 derajad.

Pemasangannya harus ada di setiap level dari lift. Begitu juga dengan standard atau ujung bagian transom. Pemasangannya memiliki jarak aman sekitar 30 meter atau kurang dari panjang scaffoldingnya sendiri.

6. Ledger dan intermediate transom

Ledger dikenal sebagai pipa mendatar yang dapat menghubungkan standard dan transom. Untuk jarak vertical antara ledger sendiri ditentukan oleh kebutuhan atau jenis scaffolding yang digunakan. Sementara untuk intermediate transom biasanya dipasang di seberang ledger dengan fungsi utamanya yaitu digunakan untuk menopang  scaffold atau board bearer.

7. Main transom dan platform

Main transom biasanya dipasangkan secara mendatar pada sebuah sudut siku yang terdapat di seberang ledger atau di masing – masing standard. Tujuan pemasagan dari transom adalah untuk menjadi penahan kedua baris standard supaya lebih kokoh.

Sementara platform merupakan bagian scaffolding yang biasanya digunakan sebagai permukaan tempat yang cenderung rendah. Mengenai bahan yang digunakan biasanya menggunakan bahan berupa papan kayu atau papan lain yang sifatnya kokoh.

Bagian scaffolding tersebut selain harus memiliki kualitas bahan yang kuat juga harus dibuat berdasarkan pemeriksaan dari pengawas proyek yang sudah berkualifikasi. Fungsinya adalah agar proyek konstruksi berjalan dengan baik dan lancar serta tidak ada masalah selama pelaksanaannya.

Sekian penjelasan yang dapat saya bagikan kali ini, semoga ilmunya dapat bermanfaat dan berguna bagi kehidupan kita semua, Aaminn.

Terimakasih telah berkunjung dan membaca artikel ini, sampaikan pendapat atau saran anda di kolom komentar ya.

Lebih bermanfaat jika dibagikan ke

Leave a Comment